PERAN GURU SEBAGAI MODEL - OLAHRAGA
Headlines News :
Home » » PERAN GURU SEBAGAI MODEL

PERAN GURU SEBAGAI MODEL

PERAN GURU SEBAGAI MODEL
DALAM PEMBELAJARAN KARAKTER DAN KEBAJIKAN MORAL
MELALUI PENDIDIKAN JASMANI

Abstract: The Teacher’s Role as a Model in Teaching Character and Moral
Virtues through Physical Education.
Problems of students’ bad character and morality always appear in the field of education. This may result from the fact that education in Indonesia emphasizes intellectual development only, while other aspects, such as personality, affective factors, and moral virtues, receive less attention. Schools and teachers actually play an important role and have a responsibility for students’ learning both in the cognitive and affective aspects. In other words, improvement of and emphasis on the cognitive aspect such as skills in reading, language, mathematics, and science aimed at preparing students to enter the global world should be balanced against the improvement of their affective aspect. This means that character building and moral virtue teaching must not be ignored.

Keywords: teacher as model, teaching character


PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi berbagai dinamika perubahan yang berkembang dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan dinamika perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menyentuh perubahan dan pergeseran aspek nilai dan moral dalam kehidupan masyarakat. Contoh, dekadensi moral dan karakter buruk yang ditunjukkan siswa sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam dunia pendidikan.
Kekerasan yang dilakukan pelajar kian memprihatinkan, seperti aksi premanisme yang dilakukan oleh pelajar yang tergabung dalam Geng Nero (Nekoneko dikeroyok), dan banyak lagi perilaku kekerasan lainnya. Geng Nero barangkali hanya salah satu potret dari sekian banyak geng yang ada di lingkungan masyarakat yang dilakukan oleh pelajar. Kejadian ini mungkin juga pernah dialami oleh sekolah-sekolah lain, namun tidak terekspos media massa.
Selain perilaku kekerasan, juga isu-isu moralitas di kalangan remaja, seperti penggunaan narkotika, pornografi, perkosaan, perampasan, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Akibat yang ditimbulkan cukup serius dan tidak dapat lagi dianggap sebagai suatu persoalan sederhana karena tindakan-tindakan tersebut telah menjurus kepada tindakan kriminal. Banyak orang berpandangan bahwa kondisi demikian diduga berawal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan.
Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, bisa jadi salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual semata. Aspek-aspek yang lain yang ada dalam diri siswa, yaitu aspek afektif dan kebajikan moral kurang mendapatkan perhatian. Koesoema (Kompas, 1 Desember 2009) menegaskan bahwa integrasi pendidikan dan pembentukan karakter merupakan titik lemah kebijakan pendidikan nasional. Sekolah dan para guru memegang peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam pembelajaran siswa, tidak hanya ditunjukkan untuk memenuhi harapan agar kinerja siswa berhasil dalam aspek kognitif yang tercermin dari hasil tes dan tingkat kelulusan lebih tinggi dalam ujian nasional (UN), tetapi harus menekankan pada aspek afektif. Dengan kata lain, peningkatan dan penekanan pada aspek kognitif harus diimbangi dengan upaya peningkatan dalam aspek pengembangan afektif siswa atau dalam arti pendidikan karakter dan kebajikan moral juga tidak boleh diabaikan. Keadaan ini nampaknya sudah dipahami dan disadari pemerintah, dalam hal ini oleh Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Muhammad Nuh. Mendiknas menyatakan kerisauan dan kerinduan banyak pihak untuk kembali memperkuat pendidikan karakter dan budaya bangsa. Pemerintah bertekad untuk memperkuat karakter dan budaya bangsa tersebut melalui pendidikan di sekolah (Kompas, 15 Januari, 2010).
Ketika sekolah didirikan, salah satu misi utamanya adalah untuk mengajar kebajikan moral (Mondale & Patton, 2001; Mulkey, 1997). Banyaknya penyimpangan moral di kalangan anak-anak dan remaja saat ini menjadikan tugas guru dan perancang bidang pendidikan moral sangat rumit. Menurut Koesoema (2009:14), di tengah perubahan tata nilai dalam masyarakat yang begitu cepat, guru tetap dituntut untuk menjaga integritas dasarnya sebagai pendidik karakter. Artinya, dalam kondisi tersebut guru dituntut dan tetap konsisten dapat menegakkan dan membangun moral dan karakter yang baik bagi para peserta didik. Guru diharapkan untuk mengajar dan mendisiplinkan siswa sehingga dapat menghormati otoritas dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan pelajaran. Hingga dewasa ini, tampaknya harapan-harapan ini pada dasarnya tetap tidak berubah. Guru memiliki peran yang sangat besar dan berpengaruh dalam kehidupan peserta didik, oleh karenanya masyarakat masih tetap berharap para guru untuk menampilkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai moral, seperti keadilan, kejujuran, dan mematuhi kode etik profesional.
Sebuah kebajikan sosial dihargai secara sosial, sementara kebajikan moral, seperti kejujuran, dihargai secara moral. Menurut Lickona (1991), sekolah dan guru harus mendidik karakter, khususnya melalui pengajaran yang dapat mengembangkan rasa hormat dan tanggung jawab.
Dalam tugasnya sebagai pendidik dan pengajar, guru berinteraksi dengan siswa, sangat penting bagi para guru untuk melayani dan berperan sebagai model pengembang karakter dengan membuat penilaian dan keputusan profesional yang didasarkan pada kebajikan sosial dan moral. Koesoema (2009:134) menegaskan bahwa terlepas dari berbagai macam posisi yang disandangnya, sadar atau tidak, perilaku dan tindakan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya merupakan wahana utama untuk pembelajaran karakter.
Seseorang yang berkarakter memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah; jujur, dapat dipercaya, adil, hormat, dan bertanggung jawab; mengakui dan belajar dari kesalahan; dan berkomitmen untuk hidup menurut prinsip-prinsip ini. Lickona (1991) menunjukkan bahwa karakter adalah penjelasan fenomena universal dari orang-orang yang memiliki keberanian dan keyakinan untuk hidup dengan kebajikan moral. Karakter mencakup berbuat sesuatu menjadi lebih baik dan melakukan yang benar, sementara perilaku tidak etis merupakan antitesis karakter. Setiap kali siswa terjebak dalam permainan emosi, seperti melukai orang lain atau berperilaku curang untuk menang dalam suatu lomba atau pertandingan, tidak akan menjadi baik atau melakukan hal yang tidak benar.
Demikian pula, jika siswa menyontek pada saat ujian atau menjiplak tulisan dari koran untuk mendapatkan nilai yang lebih baik, pada hakikatnya tidak memiliki karakter dan dasar moral yang esensial. Kajian-kajian ilmiah tentang perilaku tidak terpuji (amoral) yang dilakukan siswa dalam dunia pendidikan di Indonesia sangat terbatas. Namun, di negara-negara maju seperti di Amerika sudah sangat berkembang, survei nasional yang dilakukan oleh The Ethics of American Youth, dari Josephson Institute of Ethics (2006), diketahui bahwa perilaku siswa dalam jangka waktu 12 bulan, yaitu (a) 82% mengakui bahwa mereka berbohong kepada orangtua; (b) 62% mengakui bahwa mereka berbohong kepada seorang guru tentang sesuatu yang signifikan; (c) 33% menjiplak tugas dari internet; (d) 60% menipu selama pelaksanaan ujian di sekolah; (e) 23% mencuri sesuatu dari orang tua atau kerabat lainnya; (e) 19% mencuri sesuatu dari seorang teman, dan (f) 28% mencuri sesuatu dari toko.
Erosi karakter dan perilaku tidak terpuji yang menerpa siswa sebagaimana tersebut di atas merupakan gejala umum yang berlaku di mana-mana, termasuk  di Indonesia. Sudah cukup banyak contoh dan perilaku tidak jujur yang dilakukan individu dalam dunia pendidikan, mulai dari siswa yang mencontek, menjiplak hasil karya orang lain tanpa menyertakan sumber, mencari-cari alasan untuk lari dari tanggung jawab atas tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru (Koesoema,2009:183). Kondisi ini menegaskan bahwa para guru yang mengajar mata pelajaran apa pun harus memiliki perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan moral dan karakter pada para siswa. Namun di sisi lain perilaku tidak etis yang ditunjukkan oleh siswa tersebut bertolak belakang dengan tanggapannya yang mengakui dan percaya bahwa karakter itu penting.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) 98% berkata, “Sangat penting bagi saya untuk menjadi orang dengan karakter yang baik”; (b) 98% berkata, “Kejujuran dan kepercayaan sangat penting dalam hubungan pribadi”; (c) 97% berkata, “Ini penting bagi saya bahwa orang percaya padaku”; (d) 83% berkata, “Ini tidak layak untuk berbohong atau menipu karena bertentangan dengan karakter”. Dalam laporan tersebut juga disimpulkan bahwa semakin meluas dan mendalam perilaku kontradiktif yang terjadi mencerminkan sikap sinis siswa itu sendiri dalam proses rasionalisasi dengan cara mengabaikan kebenaran penilaian etika dan perilaku yang dinyatakan bertentangan dengan keyakinan moral (Josephson Institute of Ethics, 2006). Siswa menyatakan bahwa karakter itu penting, tetapi di sisi lain berbohong, menipu, dan mencuri. Tulisan ini ingin mencoba mengkaji bahwa model perilaku berbudi luhur yang diperankan guru melalui contoh-contoh dalam konteks pendidikan jasmani merupakan upaya yang dapat mengatasi terjadinya masalah tersebut.











GURU DAN PENGEMBANGAN KARAKTER
DALAM KONTEKS PENDIDIKAN JASMANI
Perkembangan Karakter melalui Pendidikan Jasmani

Solomon (1997) menyatakan bahwa konsep pengembangan afektif sebagai tujuan dari pendidikan melalui pendidikan jasmani sudah diperkenalkan lebih dari 160 tahun yang lalu. Pada 1831, merupakan awal guru pendidikan jasmani mengajukan permohonan agar
pendidikan jasmani dijadikan bagian dari salah satu aspek dalam kurikulum pengembangan karakter. Lebih lanjut dinyatakan olehnya bahwa pelayanan pendidikan jasmani yang disampaikan guru berkompeten dapat mempromosikan perkembangan afektif. Park (1983) menyatakan bahwa peluang mengajarkan nilai-nilai etika dan moral yang mempengaruhi perilaku siswa dapat dikembangkan melalui olahraga dan permainan. Dalam konteks ini, peran guru pendidikan jasmani perlu ditekankan agar dapat mengatasi masalah-masalah etika dan mengembangkan perilaku yang bertanggung jawab secara moral dalam olahraga.
Berdasarkan paparan sejarah singkat tersebut, jelas bahwa para pendidik sangat yakin salah satu tujuan pendidikan, khususnya pendidikan jasmani, adalah menekankan hasil ranah afektif atau perkembangan karakter dalam kurikulumnya.
Berbagai penelitian terkini mendukung pendapat bahwa melalui pengelolaan pengalaman pendidikan jasmani dapat memfasilitasi terjadinya perkembangan karakter siswa (Gibbons, Ebbeck, & Weiss, 1995; Giebink & Mc-Kenzie, 1985; Miller, Bredemeier, & Shields, 1997). Pengembangan karakter dapat dilihat sebagai komponen perkembangan moral yang tidak mencakup konotasi keagamaan (Weinberg & Gould, 1995).
Pada tulisan ini, pengembangan karakter dan perkembangan moral akan digunakan
secara bergantian dan merujuk pada pengalaman proses kognitif seseorang ketika mengembangkan kemampuan yang terkait dengan isu-isu moral. Menurut Solomon dkk, (1990) dalam pendidikan jasmani, masalah moral yang timbul biasanya mencakup situasi di mana siswa ditantang mewujudkan adanya keseimbangan secara bersamaan antara hak dan tanggung jawab dirinya dengan hak dan tanggung jawab orang lain. Siswa menunjukkan perkembangan moral secara dewasa apabila memiliki kemauan dan kemampuan berjuang mencari keseimbangan antara kebutuhan diri dan kebutuhan lain.
Pengelolaan pendidikan jasmani menimbulkan berbagai situasi di mana siswa harus membuat keputusan tentang kebutuhan hak dirinya dengan hak dan tanggung jawab siswa lainnya. Kejadian ini sering timbul, maka guru harus menentukan strategi yang memadai untuk menangani isu-isu moral, dan pengembangan karakter siswa melalui pendidikan jasmani.
Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani dapat mengembangkan karakter telah memiliki sejarah panjang dan diyakini oleh para pendidik khususnya guru pendidikan jasmani. Meskipun bukti-bukti empirik sangat terbatas. Namun, pendidikan jasmani yang dikelola dengan baik dan ditangani oleh guru yang berkompeten dapat mengembangkan karakter. Jadi, peran guru pendidikan jasmani dalam mengembangkan karakter sangat strategis.


Peran Guru sebagai Model dalam Mengembangkan Karakter

Pentingnya mengembangkan karakter ditekankan dalam tujuan dan fungsi standar kompetensi nasional pendidikan jasmani sebagaimana yang tertuang dalam Kurikulum tahun 2004. Dua di antaranya menyatakan bahwa tujuan pendidikan jasmani, yaitu: (1) meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani; dan (2) mengembangkan sikap yang sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis melalui aktivitas jasmani (Departemen Pendidikan Nasional, 2003:6). Guru pendidikan jasmani dapat membantu siswa memenuhi standar tersebut dengan menekankan pentingnya karakter dan kebajikan moral. Ketika siswa sedang mempelajari dan melakukan berbagai aktivitas olahraga, guru harus menekankan bahwa mengejek orang lain, berbuat curang, dan kekerasan merupakan perilaku yang bertentangan dengan sportivitas dan kebajikan moral.
Dimediasi oleh berbagai aktivitas olahraga, seperti olahraga profesional, olahraga di kampus dan olahraga di sekolah, para siswa dan anak-anak remaja terus-menerus dibombardir oleh pentingnya kemenangan. Televisi melalui gambar visualnya mempromosikan berulang-ulang perilaku buruk seperti gol “Tangan Tuhan” Thierry Henry saat pertandingan Pra piala Dunia antara Prancis melawan Irlandia. Dalam keadaan ini para penonton, termasuk anak-anak remaja dan para siswa akan sangat mudah terpengaruh, upaya untuk mengurangi perilaku tidak sportif dan tindakan tidak etis lainnya menimbulkan pertanyaan. Apakah masih mengherankan, apabila kemudian siswa mentransfer keinginan kuat untuk menang melalui perilaku yang tidak dapat diterima secara moral?
Selain dalam konteks olahraga, media massa juga melaporkan tanpa henti perilaku dan tindakan aparat penegak hukum yang melanggar hukum seperti kasus Polisi Vs KPK yang dikenal dengan istilah “Cicak Vs Buaya”. Masyarakat, tua-muda, anak-anak membaca dan melihat ketidakjujuran, korupsi, berbohong, mencuri, dan kecurangan sebagai pilihan dan cara yang telah dilakukan banyak orang untuk maju dan mendapatkan kekayaan. Pelajaran yang tidak etis ini sering diadopsi para siswa dan anak-anak remaja yang percaya bahwa perilaku ini menjadi cara untuk menjalani kehidupan. Realitas ini sangat bertolak belakang dengan model pelajaran kebajikan moral dan karakter yang harus diperankan oleh guru kepada siswa.
Menurut Gough (1998) tujuan akhir dari pembangunan karakter terjadi apabila setiap orang mencapai titik di mana berbuat “baik” menjadi otomatis atau terbiasa. Seperti belajar keterampilan olahraga melalui praktek berkelanjutan, secara moral tindakan tepat menjadi alami dan konsisten. Para siswa perlu meniru guru yang jujur, bisa dipercaya, adil, hormat, dan bertanggung jawab dalam berbagai tindakannya. Solomon (1997:41) menyimpulkan penelitian terbaru mengenai pengembangan karakter melalui pendidikan jasmani menunjukkan bahwa aktivitas jasmani yang terorganisasi dengan baik dapat meningkatkan pertumbuhan moral yang positif.
Lebih jauh dinyatakan olehnya bahwa bukti menunjukkan, tanpa perkembangan karakter, proses pematangan moral tidak mungkin terjadi. Para guru pendidikan jasmani memiliki tanggung jawab dan kesempatan menciptakan situasi untuk meningkatkan perkembangan karakter siswa. Bangunan teoritis yang mendasari kajian dalam tulisan ini adalah guru dapat berperan dan berfungsi sebagai model dalam mengajar karakter dan kebajikan moral (Kohlberg, 1981; Lickona, 1991; Noddings, 1992). Bagian selanjutnya dalam tulisan ini akan diuraikan bahwa integritas adalah landasan nilai yang mencakup nilai-nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab, serta menyediakan aplikasi yang dapat membimbing perilaku guru ketika berperan sebagai model pengajaran karakter dan kebajikan moral. Diharapkan melalui kajian bagian ini dapat memberikan rekomendasi bagaimana seharusnya guru berperan sebagai model berdasarkan karakter dan kebajikan moral sehingga dapat menumbuhkan penalaran moral
siswa.








































MEMBANGUN DASAR-DASAR INTEGRITAS GURU PENDIDIKAN JASMANI

Keteladanan hidup yang berbasis nilai adalah pemenuhan kewajiban dan kebenaran moral dengan karakter yang konsisten, atau integritas. Penjelasan ini benar-benar terlepas dari agama, budaya, ras, atau etnisitas. Seseorang dengan integritas perilaku yang saleh, seperti menjaga janji dan menahan diri untuk tidak berbohong, menipu, dan mencuri. Ketika berada di masyarakat, guru yang memiliki integritas dipandang sebagai model bagi suara moral para remaja untuk mengikutinya. Sebagai contoh, bagi guru pendidikan jasmani penting untuk menunjukkan integritas dengan mengajar fair play, sportivitas dan melayani dengan penuh keteladanan seperti menghargai semua siswa  dan memperlakukan setiap siswa dengan baik.
Model guru yang berintegritas adalah guru yang memilih untuk melakukan hal yang benar, sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya. Integritas berarti secara konsisten melakukan apa yang benar, sekalipun dihadapannya ada yang lebih mudah untuk melakukan sesuatu yang secara pribadi menguntungkan.
Guru yang berintegritas menunjukkan perilaku bertanggung jawab untuk menyediakan program akademik yang berkualitas dan pengalaman pendidikan yang positif. Orangtua, serta masyarakat umum, mengharapkan para guru mengajarkan karakter dan kebajikan moral yang dapat membantu membentuk siswa sehingga menjadi anggota masyarakat yang berguna.
Pada diri guru ada tanggung jawab dan dipercayakan untuk membentuk sikap disiplin, keselamatan siswa sehingga pengaruh pengajaran dan potensi pembelajaran yang terjadi di sekolah akan mengubah hidup. Integritas seorang guru yang melekat padanya tidak lepas dari pengamatan siswa. Artinya, siswa akan mengevaluasi karakter guru didasarkan pada bagaimana cara guru memperlakukan dalam proses pembelajaran. Para siswa tahu kapan guru berkomitmen untuk mengajar yang mencakup aspek psikomotorik, kognitif, dan afektif, dan mengetahui bahwa guru sungguh peduli dapat dipercaya, jujur, dan hormat. Bagaimana para guru dapat melayani sebagai teladan dengan mengajar karakter dan nilai-nilai moral kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab. Di bawah ini akan diungkap lebih rinci nilai-nilai moral tersebut.

  1. Kejujuran
Guru menunjukkan kejujuran dengan menyatakan kebenaran dan bertindak dengan cara terhormat. Contoh kejujuran guru di antaranya, mematuhi kurikulum yang telah ditetapkan dan kebijakan dan peraturan daerah, mengelola keuangan sekolah dengan benar; dan mengevaluasi karya siswa yang didasarkan pada penilaian yang objektif dan terstruktur. Kejujuran, termasuk memenuhi janji-janji dan komitmen, seperti menjaga kerahasiaan catatan siswa. Kejujuran juga termasuk tidak berbohong, menipu, atau mencuri, seorang guru harus memenuhi tanggung jawab secara profesional apalagi yang sudah dapat tunjangan profesi.
Guru selayaknya tidak berhenti diskusi atau melakukan aktivitas yang menekankan untuk memperbaiki perilaku yang tidak jujur. Sebagai contoh, dalam permainan bolabasket, ketika bola menyentuh batas luar lapangan, guru dapat meminta siswa yang paling dekat dengan bola, “Siapa yang menyentuh bola sehingga ke luar?” Jika tidak ada yang merespon, permainan dihentikan.
Setelah memperkuat nilai kejujuran, guru dapat bertanya lagi “Yang jujur adalah dia yang mengakui menyentuh terakhir bola ke luar batas lapangan?” Guru dapat menjelaskan dan menunjukkan bahwa kejujuran berarti menyatakan yang sebenarnya tentang mengapa suatu tugas tidak disampaikan pada waktunya; kejujuran berarti menyelesaikan tugas tanpa menjiplak karya orang lain atau mengambil karya orang lain dari situs web; kejujuran berarti mengakui bahwa anda menyentuh bolavoli bersih selama permainan; kejujuran berarti bersikap jujur pada diri sendiri dalam upaya untuk belajar.
Sebagai teladan bagi siswa, guru secara konsisten menerima kewajiban moral untuk jujur, terlepas dari situasi apa pun. Kejujuran berfungsi sebagai prasyarat untuk percaya, keadilan, tumbuhnya rasa hormat, dan tanggung jawab.

  1. Kepercayaan
Kepercayaan adalah percaya pada orang lain yang berkembang setiap kali orang tersebut memenuhi janji dan komitmennya. Ketika seorang guru menetapkan dan menjunjung tinggi harapan seperti menyediakan dan memandu untuk tugas tertulis dan belajar siswa, siswa dapat mempercayai guru. Munculnya rasa saling percaya di antara guru dan siswa merupakan kunci keberhasilan pendidikan.
Kepercayaan akan mengganti kecemasan atau rasa takut menjadi keterbukaan. Ketika siswa percaya pada guru, maka yang tidak terhindarkan dari siswa adalah kesalahan yang dilakukannya akan berubah menjadi rasa takut sehingga kegagalan akan berubah menjadi kesempatan untuk belajar.
Sebagai contoh, guru dapat membangun kepercayaan dengan memberikan bantuan ketika seorang siswa belajar gerak senam yang sulit, seperti belajar bagaimana untuk berjalan di atas balok keseimbangan. Kepercayaan akan terjaga bila siswa tidak direndahkan karena kesulitan dalam belajarnya, melainkan guru harus menyediakan bantuan tambahan untuk memfasilitasi siswa belajar. Guru juga harus mendorong siswa untuk terus mencoba, dengan menyatakan, “Anda bisa melakukannya” atau “Anda sedang membuat kemajuan yang baik,” sampai menguasai keterampilan. Kepercayaan mengembangkan harapan siswa setiap kali bertemu dengan guru, dan menerima hadiah yang dijanjikan. Lalu siswa akan terus menunjukkan kepercayaan dengan mencoba untuk belajar agar terampil, bahkan setelah berkali-kali gagal karena telah memiliki keyakinan pada guru.
Menumbuhkan kepercayaan akan sangat efektif bila disampaikan saat membuka pelajaran. Ketika siswa percaya pada guru, maka siswa tidak akan khawatir dan menjadi malu selama di kelas, karena tahu bahwa kenakalan atau kesalahan akan ditangani secara individual. Kepercayaan akan terpelihara ketika siswa merasa bahwa guru mendengarkan perjuangannya yang terkait dengan hubungan interpersonal, masalah-masalah akademis, atau masalah pribadi. Kepercayaan ini juga didasarkan pada keyakinan bahwa ketika siswa menerima bantuan, percakapan akan diadakan sangat rahasia. Kepercayaan juga membangun kepercayaan diri siswa ketika belajar menggantungkan dirinya pada guru yang akan membantunya tumbuh dan berkembang.



  1. Keadilan
Keadilan berhubungan erat dengan kepercayaan sehingga siswa dapat dengan cepat belajar apakah mendapat perlakukan diskriminasi atau perlakukan secara tidak adil dari guru. Keadilan menuntut agar semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memenuhi standar pada tes tertulis atau keterampilan dan menerima nilai yang sesuai. Kadang-kadang keadilan bisa berarti memperlakukan siswa berbeda karena itu merupakan hal yang tepat untuk dilakukan. Sebagai contoh, seorang guru dapat memilih untuk memberikan persentase penghargaan nilai perbaikan, yang didasarkan pada berapa banyak kemajuan telah dibuat siswa  dalam belajar keterampilan tertentu.
Dalam kasus ini, sang guru memberikan kesempatan yang sama kepada siswa untuk mendapatkan nilai yang baik dalam tes perbaikan, tapi karena individu memiliki kemampuan yang unik dan tingkat pengalaman yang berbeda, mungkin setiap siswa menerima nilai yang berbeda.
Guru harus menekankan pentingnya melatih pengendalian diri dan menahan diri ketika dihadapkan pada tindakan yang dianggap tidak sesuai. Siswa yang bertindak adil dan tidak adil akan menggertak orang lain. Jika gangguan terjadi, siswa harus diinstruksikan pada prinsip keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab sehingga akan tahu bagaimana harus bersikap lebih tepat terhadap orang lain.
Guru yang adil percaya pada kemampuan masing-masing siswa untuk belajar, dan mendorong setiap siswa untuk mencapai pada tingkat kemungkinan tertinggi. Guru adil ketika mereka memberi hukuman berat dan ringan yang sama kepada siswa yang melanggar kebijakan di ruang kelas atau di ruang olahraga. Salah satu cara agar guru dapat menunjukkan keadilan kepada siswa adalah dengan menunjukkan rasa hormat kepada setiap siswa sebagai individu yang unik.

  1. Hormat
Mengembangkan rasa hormat di masyarakat yang dikembangkan dalam  kelas sangat penting. Proses ini dimulai dengan cara guru menunjukkan rasa hormat terhadap siswa, tanpa memandang suku, ras, gender, status sosial ekonomi, atau karakteristik individu atau kemampuan. Guru harus luwes dalam menanggapi berbagai tingkat keterampilan dan kemampuan yang ditampilkan oleh siswa. Meskipun merupakan tantangan berat harus mengajar siswa dengan sedikit kemampuan bawaan. Namun, sebisa mungkin guru harus dapat meningkatkan kemampuan siswa tersebut secara optimal.
Noddings (1992) menganjurkan agar pendidikan moral didasarkan pada guru, dan guru harus menunjukkan kepedulian dan menyadari bahwa siswa adalah individu yang unik. Guru yang peduli dan menghormati siswanya menjadi sensitif dan penuh perhatian terhadap perasaan siswa. Kesopanan di dalam dan di luar kelas mengharuskan guru dan siswa menunjukkan rasa hormat dan peduli tentang orang lain. Penghormatan akan diperoleh dengan cara memperlakukan orang lain penuh hormat. Ketika para guru memperlakukan siswa dengan hormat, maka guru akan menerima penghargaan sebagai balasannya.

  1. Tanggung Jawab
Guru yang menunjukkan tanggung jawab adalah guru yang secara moral bertanggung jawab atas tindakannya dan memenuhi tugas-tugasnya. Ketika guru menciptakan dan mempertahankan lingkungan belajar yang positif dan fokus pada penyediaan pelayanan pendidikan kepada siswa dan masyarakat, dapat dikatakan bertindak secara bertanggung jawab. Guru juga dikatakan bertindak secara bertanggung jawab apabila membantu secara optimal mengembangkan psikomotorik, kognitif, dan kemampuan afektif siswa. Mengadakan persiapan dengan baik untuk setiap kelas dan memberikan umpan balik yang cepat serta konstruktif kepada para siswa untuk membantu memfasilitasi proses pembelajaran juga merupakan guru yang bertanguung jawab. Menunjukkan pentingnya sebagai model dalam hal yang terkait dengan kesehatan, kebugaran fisik, gizi yang baik, dan tidak adanya penyalahgunaan narkoba adalah merupakan tanggung jawab guru.
Pendekatan pengajaran tanggung jawab melalui pendidikan jasmani dan olahraga yang dikembangkan oleh Hellison (2003) telah terbukti berhasil meningkatkan rasa tanggung jawab siswa. Hellison bekerja dengan remaja yang bermasalah dalam upaya membantu untuk belajar menghormati hak-hak dan perasaan orang lain, menunjukkan disiplin diri melalui partisipasi dan usaha membantu orang lain, dan kemudian untuk menerapkan perilaku-perilaku tersebut dalam aspek-aspek lain dalam kehidupan.
Dikatakan lebih lanjut olehnya bahwa guru dapat mendorong siswa untuk mengambil tanggung jawab pribadi dan sosial yang lebih besar dalam upayanya memperlakukan orang lain. Setiap kali seorang siswa gagal untuk menyelesaikan tugas atau bertingkah, guru dapat menggunakan kesempatan untuk mengajarkan para siswa menerima tanggung jawab untuk membuat pilihan yang salah dan membuat pilihan yang lebih baik di masa mendatang.
Sebagai contoh, jika siswa marah secara lisan atau secara fisik ketika dianiaya oleh orang lain, guru dapat membantu siswa tersebut belajar menahan diri dan pengendalian diri, yang menyebabkan lebih banyak tanggapan positif dan konstruktif. Dengan menunjukkan minat yang tulus pada semua siswa untuk memelihara hubungan baik di antara siswa, guru bertanggung jawab untuk mengenali para siswa secara personal. Hal ini akan mempermudah guru memahami tentang cara terbaik membantu setiap siswa untuk tumbuh dan berkembang.


MENGEMBANGKAN PENGAJARAN PENALARAN ALASAN MORAL
Titik awal untuk belajar alasan secara moral adalah mempelajari prinsip-prinsip moral. Prinsip merupakan aturan perilaku yang bersifat universal yang mengidentifikasi jenis tindakan, niat, dan motif-motif yang dihargai (Lumpkin, Stoll, & Beller, 2003). Prinsip-prinsip ini didasarkan pada nilai-nilai moral seperti kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab. Dalam memutuskan apakah hal-hal seperti berbohong, mencuri, menipu, dan inkar janji merupakan tindakan yang prinsip, maka pada setiap individu bergerak melalui tiga tahapan penalaran proses moral. Tiga tahapan penalaran moral itu, yaitu: (1) fase pengetahuan moral, (2) fase perasaan moral; dan (3) fase bertindak secara moral.
Penalaran moral adalah proses sistematis untuk mengevaluasi kebajikan dan mengembangkan pribadi yang konsisten dan tidak memihak serangkaian prinsip-prinsip moral yang digunakan untuk hidup (Lumpkin, dkk., 2003).
Tahap pertama adalah pengetahuan moral, yang merupakan fase kognitif belajar tentang isu-isu moral dan bagaimana mengatasinya. Tahap kedua adalah menghargai atau perasaan moral, yang merupakan dasar dari apa yang diyakini tentang dirinya sendiri dan orang lain. Tahap ketiga adalah bertindak secara moral, yaitu bagaimana orang-orang bertindak secara nyata berdasarkan nilai dan apa yang diketahui.
Dalam mengajarkan proses penalaran moral, guru harus membantu siswa mempelajari perbedaan antara benar dan salah. Sangat mudah bagi siswa untuk merasionalisasikan tindakan-tindakan keliru dengan menyatakan, “Tidak ada aturan yang melarang itu,” “Semua orang lain juga melakukannya,” “Apa yang saya lakukan tidak etis tidak masalah, karena tidak ada seorang pun yang tahu,” atau “Situasi menyebabkan aku bertindak dengan cara ini”. Sangat penting bahwa guru mendidik untuk tidak merasionalisasikan prinsip perilaku siswa dan sebagai gantinya menggunakan proses penalaran moral ketika membuat keputusan.
Pernah suatu ketika seorang mahasiswa bertanya kepada penulis, pertanyaannya “kenapa dalam permainan bolabasket pemain bertahan menjelang detik-detik terakhir waktu pertandingan selalu diperintahkan pelatih untuk melanggar atau “mematikan” pemain lawan yang akan memasukan bola, terlebih diketahui bahwa pemain yang dilanggar tersebut jika melakukan tembakan bebas sebagai hadiah atas pelanggaran yang diterimanya selalu gagal”.
Mahasiswa tersebut merasa terganggu bahwa perilaku seperti itu diperbolehkan padahal tindakan pemain bertahan tersebut melanggar tujuan dari permainan. Banyak pemain dan pelatih merasionalisasi bahwa membuat pelanggaran terhadap lawan untuk menghentikan jam adalah etis demi tujuan taktis dan diperbolehkan dalam peraturan.
Sebaliknya, walaupun tidak ada aturan yang menyatakan bahwa menjatuhkan disengaja tidak dapat terjadi pada akhir permainan, apakah tindakan seperti itu tidak melanggar semangat aturan itu sendiri? Secara substantif, selama aktivitas kelas, dan dalam interaksi face to face dengan murid, guru harus terus-menerus menekankan bahwa mengetahui tentang moral menuntut orang tidak membenarkan tindakan yang salah dengan mencoba untuk membuat tampak benar. Sebagai contoh, bahkan jika hasil dari sebuah permainan bolabasket tergantung pada tim yang menguasai bola, seharusnya guru atau pelatih tidak membantu siswa untuk berbuat bohong dengan cara mempermainkan bola di luar batas!
Guru membantu siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai moral kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab melalui pemberian contoh atau model terus-menerus dan memperkuat apa yang benar dan baik. Sebagai contoh, ketika guru mengakui kesalahan siswa dan memperbaikinya, siswa akan menunjukkannya sendiri dan akan menerima konsekuensi dari tindakannya. Pemberian contoh moral seperti itu dapat membantu siswa belajar menghargai guru yang tidak hanya bicara tentang kebaikan, tetapi telah memasukkannya ke dalam tindakan sehari-hari.
Kadang-kadang tindakan moral membutuhkan keberanian dari seseorang untuk ke luar dari kerumunan orang-orang dan berdiri untuk berbeda. Guru perlu meningkatkan kemauan siswa agar membuat pilihan yang baik sekalipun dihadapkan dengan tekanan untuk bertindak tidak etis. Dalam sebuah kelas pendidikan jasmani, guru dapat memuji siswa yang mengakui menyentuh net (jaring) voli, ini adalah kesempatan untuk memperkuat bahwa membuat panggilan yang benar adalah hal yang tepat untuk dilakukan sekalipun berbeda dengan keinginan teman-teman seregunya. Guru juga dapat memberikan kesempatan bagi siswa menunjukkan komitmen untuk bertindak secara moral, seperti melaporkan sendiri skor yang diperoleh saat tes keterampilan.
Siswa yang menolak untuk menyontek pada ujian, berbohong tentang umur saat akan masuk nonton film, atau download musik dari internet yang dilindungi hak cipta, semua ini menunjukkan para siswa telah belajar bahwa kegiatan tersebut tidak dibenarkan secara moral.
Guru dapat membantu siswa belajar pentingnya mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, secara pribadi menilai apa yang benar, dan bertindak berdasarkan pada pengetahuan dan menghargai. Stoll dan Beller (1998:21) menekankan, penalaran moral tidak menjanjikan perubahan perilaku, tetapi merupakan komitmen pencarian jiwa individu dan refleksi pribadi atas kepercayaan, nilai, dan prinsip-prinsip. Tanpa proses ini, pertumbuhan pengetahuan moral tidak akan meningkat, perubahan perilaku tidak akan pernah terjadi, dan potensial untuk konsisten dalam tindakan moral menjadi lebih sedikit dari proporsi yang seharusnya.



PENUTUP
Seorang guru yang akan mengembangkan karakter siswa harus menunjukkan bahwa integritas adalah hal yang paling berharga. Guru terlebih dahulu harus berperan sebagai model untuk menyatakan kebenaran, menghormati orang lain, menerima dan memenuhi tanggung jawab, bermain jujur, mengembalikan kepercayaan, dan menjalani kehidupan yang bermoral. Guru harus berperan sebagai model akan pentingnya keterlibatan dalam sebuah pencarian kebenaran yang akan berlangsung seumur hidup sehingga dapat melakukan sesuatu yang benar tidak mudah melakukan sesuatu tindakan yang salah.
Guru sebagai pendidik karakter harus mengajar murid-muridnya sebagai  individu-individu yang dapat membuat keputusan berdasarkan proses dan prinsip penalaran moral. Dengan cara membantu para siswa untuk mengetahui tentang apa itu nilai-nilai, percaya pada nilai-nilai sebagai bagian integral dari kehidupannya, dan menjalani kehidupannya sesuai dengan niali-nilai tersebut.
Guru dapat memainkan peran penting dalam membantu siswa belajar dan menerapkan proses penalaran moral. Pelajaran di dalam kelas dan melalui interaksi guru-murid di luar kelas harus didasarkan pada kebajikan. Integritas, kejujuran, kepercayaan, keadilan, rasa hormat, dan tanggung jawab harus menjadi ciri khas guru dalam hubungannya dengan siswa. Dalam rangka mengembangkan karakter siswa dapat dilakukan melalui pegembangan sikap saling percaya, memelihara saling percaya dan mengembangkan rasa hormat di antara siswa, memperlakukan orang lain dengan penuh hormat dan percaya pada martabat yang melekat pada setiap orang, serta melaksanakan tanggung jawab sebagai guru dengan cara-cara bertanggung jawab secara moral.


UCAPAN TERIMA KASIH
Artikel kecil ini lahir karena kontribusi berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada Dewan Redaktur Jurnal Cakrawala Pendidikan UNY yang telah memberi kontribusi untuk menyempurnakan artikel ini. Selain itu, juga kepada staf pelaksana CP yang telah bersusah-payah sehingga jurnal ini terbit tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, 2003. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Depdiknas.
Gibbons, S., Ebbeck, V., & Weiss, M. 1995. “Fair Play for Kids: Effects on the Moral Development of Children in Physical Education”. Research Quarterly for Exercise and Sport. 66, 247-255.
Giebink, M., & McKenzie, T. 1985. “Teaching Sportsmanship in Physical Education and Recreation: An Analysis of Interventions and Generalizations Effects”. Journal of Teaching in Physical Education. 4, 167-177.

Gough, R. W. 1998. “A Practical Strategy for Emphasizing Character Development in Sport and Physical Educatio”. Journal of Physical Education, Recreation & Danc. 69(2), 18-20, 23.

Hellison, D. 2003. Teaching Responsibility through Physical Activity (2nd ed.). Champaign, IL: Human Kinetics.

Josephson Institute of Ethics. 2006. The Ethics of American Youth. http:- //www.josephsoninstitute. org/- reportcard/. Diakses pada Tanggal 25 Desember 2009.

Cakrawala Pendidikan, Mei 2010, Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY Koesoema, Doni, A. 2009. Desain Besar Pendidikan. Kompas, 1 Desember 2009, halaman 6.

_______. 2009. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta: Penerbit PT Grasindo.

Kompas, Jumat, 15 Januari 2010. Pendidikan Abaikan Karakter. Halaman 12.

Lickona, T. 1991. Educating for Character: How Our Schools can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam.

Lumpkin, A., Stoll, S. K., & Beller, |. M. 2003. Sport Ethics: Applications for Fair Play (3rd ed.). Boston: Mc- Graw-Hill.
Miller, S., Bredemeier, B. J., & Shields; D. 1997. “Sociomoral Education Through Physical Education with Atrisk Children”. Quest. 49, 114- 129.
Mondale, S., & Patton, S. B. (Eds.). 2001. School-The Story of American Public Education. Boston: Beacon.
Mulkey, Y. J. 1997. “The History of Character Education”. Journal of Physical Education, Recreation & Dance. 68(9), 35-37.
Noddings, N. 1992. The Challenge to Care in Schools: An Alternative Approach to Education. New York: Teachers College.
Solomon, G. 1997. “Does Physical Education Affect Character Development In students?” Journal of Physical Education, Recreation & Dance. 68(9), 38-41.
Stoll, S. K., & Beller, J. M. 1998. Can Character be Measured? Journal of Physical Education, Recreation & Dance. 69(1), 19-24.
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. OLAHRAGA - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya